Surat pertama
Tentang malam yang tidak harus sempurna
Untuk kalian berdua,
Kami sering menerima pesan yang dimulai dengan kalimat yang sama: "Kami ingin mencoba, tapi selalu ada saja yang kurang." Anaknya belum tidur. Besok harus berangkat pagi. Kamarnya belum rapi. Lalu minggu berganti bulan.
Kami ingin mengatakan sesuatu dengan lembut: malam yang sempurna itu jarang datang. Yang datang biasanya malam yang cukup. Dan malam yang cukup, bila disiapkan dengan sedikit perhatian, sering terasa lebih dari cukup.
Cukup itu seperti apa
- Satu lampu kecil, bukan lampu kamar.
- Dua puluh menit yang tidak diganggu layar.
- Satu kalimat di awal: "Malam ini kita pelan-pelan saja, ya."
Hanya itu. Tidak perlu lilin di setiap sudut, tidak perlu pakaian baru, tidak perlu barang apa pun dari kami. Babak pertama dari ritual yang kami tulis di beranda bisa dilakukan dengan apa yang sudah ada di rumah.
Malam yang sempurna jarang datang. Yang datang adalah malam yang cukup — dan itu sudah lebih dari cukup.
Kalau nanti ada yang tidak berjalan seperti bayangan — tertawa di saat yang salah, kaki kram, suara pintu kamar sebelah — biarkan saja. Justru hal-hal kecil itulah yang biasanya diingat bertahun-tahun kemudian, sambil tersenyum.